Kawah Sikidang Dieng. Sisi lain Fenomena gunung Magma

Letak, Lokasi dan etimologi Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang Dieng berada di Kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng, masuk wilayah kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kawah ini tidak seperti kawah pada umumnya di Indonesia. Keistimewaan Kawah ini terutama pada letak kolam kawah utama yang sering berpindah-pindah secara random.

Sifatnya yang suka melompat-lompat inilah yang mendasari penamaan kawah ini. Sikidang diambil dari nama binatang rusa yang dalam bahasa jawa disebut kijang, hewan yang suka melompat-lompat sebagaimana karakter Kawah Sikidang Dieng.

Kawah Sikidang Dieng Photo by @abrahamsesar instagram
Kawah Sikidang Dieng Photo by @abrahamsesar instagram

Letak kawah sikidang berada diantara perbukitan gunung Dieng, karenanya disekeliling kawah kita dapat menyaksikan pemandangan indah perbukitan yang masih Hijau, ada yang telah menjadi ladang penduduk namun ada pula yang masih ditanami pohon dan semak liar.

Namanya juga kawah, bau belerang akan tercium ketika anda memasuki wilayah Kawah. Karena itu dianjurkan bagi para pengunjung agar  memakai masker untuk menghindari bau dari asap kawah. Namun jika anda tidak membawa masker jangan khawatir, disekitaran kawah anda akan menjumpai banyak pedagang menjajakan masker jualannya.

Mitos dan Legenda Kawah Sikidang

Ada mitos atau cerita rakyat yang menarik untuk disimak mengenai kawah Sikidang ini. Konon, pada Jaman dahulu di dataran tinggi Dieng tinggallah seorang putri nan cantik jelita. Putri cantik itu bernama Shinta Dewi. Kecantikannya pun dikenal luas hingga ke berbagai penjuru daerah, sehingga membuat banyak pangeran berminat untuk meminangnya menjadi istri. Namun sayang seribu sayang, tidak ada yang berhasil memikat hati sang putri. Konon katanya, sang putri meminta persyaratan yang cukup berat untuk disanggupi, yakni mas kawin dalam jumlah yang sangat besar.

Kawah Sikidang Dieng Photo by @arra_nnisa instagram
Kawah Sikidang Dieng Photo by @arra_nnisa instagram

Namun pada suatu hari, ada seorang pangeran bergelimang harta mendengar kabar akan kecantikan Shinta Dewi di dataran tinggi Dieng. Dialah pangeran Kidang Garungan, seorang pangeran kaya raya dari kerajaan seberang. Walau kaya raya, pangeran tersebut wujudnya sesuai namanya, bertubuh manusia namun berkepala kidang (kijang dalam bahasa Jawa).

Kemudian sang pangeran Kidang Garungan mengutus pengawalnya untuk menyampaikan lamaran atas dirinya kepada putri Shinta Dewi. Untuk memikat hati sang putri jelita, pangeran Kidang Garungan memberikan iming-iming berupa mas kawin yang teramat banyak jumlahnya. Mengetahui hal tersebut, putri Shinta Dewi pun luluh oleh mas kawin yang ditawarkan sang pangeran. Shinta Dewi terpikat dan akhirnya menerima lamaran sang pangeran. Dalam benak sang putri, pastilah pangeran kaya raya tersebut seorang yang gagah rupawan.

Namun ketika melihat wujud Pangeran Kidang Gadungan Shinta Dewi sangat terkejut. Wujud sang pangeran diluar ekspektasi sang putri. Putri Shinta Dewi pun kalang kabut karena telah menerima lamaran sang pangeran Kidang. Tak kehabisan akal, akhirnya sang putri meminta dibuatkan sebuah sumur yang besar untuk rakyatnya yang kesulitan air sebagai akal-akalan. Pangeran Kidang Garungan pun menyanggupi untuk membuat dengan usahanya sendiri.

Kawah Sikidang Dieng Photo by @dimas_dandelion instagram
Kawah Sikidang Dieng Photo by @dimas_dandelion instagram

Keesokan harinya, pangeran Kidang langsung menggali sumur tersebut dengan tangannya sendiri. Terkadang tanduknya pun ikut digunakan untuk menggali. Karena kesaktiannya, dengan cepat lubang sumur tersebut jadi, luas dan dalam. Mengetahui hal itu, sang putri memberikan perintah pada rakyatnya agar menimbun sang pangeran hidup-hidup selagi menggali di dasar sumur.

Pangeran Kidang Garungan akhirnya terkubur hidup-hidup di dasar sumur yang digalinya sendiri. Karena tahu itu hanya akal busuk dari sang putri Shinta Dewi, Pangeran Kidang pun murka. Amarahnya membuat timbunan tanah di dalam sumur yang digalinya meledak dan berubah menjadi kawah panas. Sebelum menemui ajalnya, pangeran Kidang sempat bersumpah bahwa seluruh keturunan putri Shinta Dewi akan berambut gembel (gimbal).

Dari legenda Kawah Sikidang tersebut lah asal mula cerita tentang si anak berambut gimbal yang hingga kini masih ada di dataran tinggi Dieng. Si anak berambut gimbal ini pun menjadi anak yang “istimewa” yang mana menurut kearifan lokal setempat rambutnya belum boleh dipotong sebelum si anak memintanya.

Ritual pemotongan rambut gimbal untuk si anak “istimewa” dari legenda Kawah Sikidang ini pun rutin diselenggarakan setiap tahun di Kompleks Candi Arjuna. Ritual tersebut kini dikemas sebagai acara budaya berbasis pariwisata yang dikenal dengan ruwatan potong rambut gimbal. Selain itu, sebelum ruwatan diselenggarakan berbagai acara untuk memeriahkan perayaan adat ini seperti Dieng Culture Festival dan Jazz Atas Awan yang juga diselenggarakan di Kompleks Candi Arjuna, dataran tinggi Dieng.